Kabupaten Demak, yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah, tengah menghadapi ancaman serius penurunan muka tanah kian parahnya.
Kondisi ini bahkan disebut-sebut lebih kritis dibandingkan Jakarta, dengan laju penurunan mencapai 20 sentimeter per tahun. Apabila tidak segera ditangani, wilayah dataran rendah ini berisiko tenggelam di bawah permukaan laut, memicu banjir rob yang lebih luas. Berbagai solusi seperti tanggul dan penanaman mangrove selama ini dianggap belum mampu mengatasi akar masalahnya secara tuntas.
Jelajahi informasi menarik dan terpercaya lainnya yang tersedia untuk menambah pengetahuan Anda di Mafia Tanah.
Krisis Lingkungan Pesisir Demak
Wilayah pesisir utara Jawa Tengah, termasuk Demak, mengalami penurunan muka tanah yang drastis, mencapai 20 sentimeter per tahun. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari Jakarta yang sekitar 10 sentimeter per tahun, menunjukkan tingkat keparahan yang mengkhawatirkan. Kondisi geografis Demak sebagai dataran rendah semakin memperburuk situasi.
Jika tren penurunan ini terus berlanjut, ketinggian Demak berisiko berada di bawah permukaan laut, memicu bencana banjir rob yang semakin parah. Banjir rob sendiri di Demak sudah terjadi sejak tahun 1980, menjadi masalah kronis yang terus menghantui. Fenomena ini diperparah oleh kenaikan permukaan air laut global.
Selain itu, curah hujan yang semakin tinggi akibat krisis iklim menambah kompleksitas masalah. Air hujan akan mengalir ke cekungan akibat penurunan tanah, menyebabkan banjir fluvial. Artinya, Demak “diserang” dari laut oleh rob dan dari darat oleh banjir air hujan, menciptakan situasi yang sangat rentan.
Tanggul Dan Mangrove, Solusi Semu?
Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menilai bahwa Demak kini menjadi salah satu daerah terparah di Jawa terkait penurunan muka tanah. Meskipun Semarang dan Pekalongan telah membangun tanggul, Demak baru memiliki sedikit. Hal ini menjadikan Demak sangat mengkhawatirkan di mata para ahli.
Heri Andreas menjelaskan bahwa penurunan tanah di Demak setara dengan Semarang dan Pekalongan, rata-rata 10 cm per tahun. Namun, ketiadaan tanggul yang memadai membuat Demak lebih rentan. Penanaman mangrove juga sering disebut sebagai solusi, tetapi dalam kasus Demak, keduanya belum cukup efektif.
Ia menegaskan bahwa “diserang” dari hilir (laut) dan dari pantai (darat), kondisi Demak bisa semakin parah jika tidak ada upaya mitigasi yang komprehensif. Tanggul dan mangrove memang membantu, namun bukan jawaban tunggal untuk mengatasi akar masalah penurunan tanah dan kenaikan permukaan air laut.
Baca Juga: Terkuak! Bupati Ungkap Masalah Konflik Tanah Di Penajam Paser Utara
Akar Masalah Penurunan Tanah
Awalnya, penurunan permukaan tanah terparah terjadi di Jakarta, sebagian besar disebabkan oleh eksploitasi air tanah yang berlebihan. Setelah dua dekade, Jakarta mulai berhasil meredam laju penurunannya melalui berbagai kebijakan dan pengelolaan air tanah yang lebih baik.
Namun, fokus masalah kini bergeser ke Jawa Tengah, dengan Pekalongan, Semarang, dan Demak sebagai titik terparah. Meskipun beberapa di antaranya sudah memiliki tanggul, masalah penurunan tanah masih terus berlangsung. Ini menunjukkan bahwa akar masalahnya lebih kompleks dari sekadar dampak langsung air laut.
Eksploitasi air tanah yang masif, beban infrastruktur yang berat, serta kompaksi alami tanah lunak merupakan beberapa faktor pemicu. Tanpa penanganan yang menyasar penyebab utama ini, solusi struktural seperti tanggul hanya akan bersifat sementara dan tidak menyelesaikan masalah jangka panjang.
Ancaman Masa Depan Dan Solusi Komprehensif
Siklus iklim La Nina diprediksi akan memperburuk kondisi banjir di Demak karena meningkatkan curah hujan dan gelombang pasang. Ini menjadi alarm bagi Demak untuk segera mencari solusi yang lebih adaptif dan berkelanjutan terhadap perubahan iklim.
Heri Andreas juga memperingatkan bahwa Purbalingga, Tegal, dan Brebes berpotensi menyusul jejak Demak dalam masalah penurunan muka tanah. Fenomena ini bersifat dinamis secara spasial dan temporal, menuntut pendekatan yang lebih holistik dan terintegrasi dari pemerintah daerah dan pusat.
Solusi yang dibutuhkan Demak bukan hanya tanggul dan mangrove, melainkan pengelolaan air tanah yang ketat, pengembangan infrastruktur yang ramah lingkungan, serta rencana tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana. Upaya mitigasi harus menyentuh akar masalah untuk melindungi masa depan wilayah pesisir Jawa.
Pantau terus berita terbaru seputar Mafia Tanah beserta informasi menarik lainnya yang menambah wawasan Anda.
- Gambar Utama dari lestari.kompas.com
- Gambar Kedua dari kompas.id
